Ridho Rhoma Dicekal Di Madura

SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT / Ridho Irama, vokalis Sonet 2 Band

Perjalanan karier Ridho Rhoma, putra raja dangdut Rhoma Irama, tak semulus yang dia harapkan. Penolakan mulai muncul dari tokoh agama yang mengkhawatirkan pentas Ridho berbau maksiat.

Di Pamekasan, Madura, Jumat (11/12) lalu, konser Nada dan Dakwah yang sedianya digelar Ridho bersama Sonet 2 Band dibatalkan Polda Jawa Timur karena adanya penolakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. Salah-satu alasan MUI, konser tersebut tidak sesuai dengan norma agama, dan bisa memicu kemaksiatan.

Ketua MUI Pamekasan, KH Lailurrahman Lc, mengatakan, larangan MUI dikeluarkan setelah mempertimbangkan masukan dari masyarakat yang sadar moral dan resahnya ulama pesantren Pamekasan.

”Kami tidak benci Ridho Rhoma. Justru kami kasihan kepada Ridho. Takut di akhirat nanti dia dimurkai Allah. Kami semua cinta kepada umat, termasuk cinta kepada Ridho,” ujarnya.

Menurut Lailur, konser Ridho sebelumnya di tempat lain juga ricuh. Petugas dilempari karena sebagian penonton tidak boleh masuk. Di dalam stadion, penonton juga ricuh, melempari Ridho. ”Berdasarkan pengalaman itu, maka kami di Pamekasan tidak mau meniru,” ucap KH Lailur.

Dia melanjutkan, keresahan ulama lantaran dalam konser itu para penonton lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya akan berjejalan dan berbaur jadi satu. Jumlahnya bisa mencapai ribuan orang, sehingga sangat mungkin mengundang kemaksiatan. ”Dalam kondisi demikian, bisa jadi penonton perempuan digerayangi tubuhnya oleh penonton lelaki,” ucapnya.

Sementara itu, Ridho ketika dimintai tanggapannya mengaku tidak mempersalahkannya. ”Aku sih santai saja, nggak stres,” katanya.

Meski begitu, Ridho menyayangkan konser tersebut harus dihentikan karena kontraknya lima kali tampil di lima kota di Jatim. Namun dia memaklumi jika MUI mengkhawatirkan pada konser tersebut akan terjadi hal yang tidak diinginkan. ”Saya maklum sih karena hiburan kebanyakan di daerah situ memang agak parah dan konser dangdut suka rusuh,” ucapnya.

Rugi Rp 500 juta

Pihak penyelenggara menyebutkan, konser yang digelar oleh Gen Art Advertising ini bukan hanya akan mementaskan pertunjukan dangdut, namun juga ada misi dakwah dan kegiatan sosial berupa sunatan massal dan ceramah agama.

Menurut Ketua Penyelenggara Konser Nada dan Dakwah Ridho Rhoma, Imam Maksum, dengan kejadian ini panitia menderita kerugian sekitar Rp 500 juta. Panitia juga kehilangan kepercayaan dari masyarakat, karena dianggap tidak profesional menangani hiburan.

”Kesalahan ini murni bukan dari panitia. Tapi pemkab yang sengaja mencari-cari alasan untuk menjegal kegiatan ini. Bang Haji (maksudnya Rhoma Irama—Red) dan Ridho saat saya beri tahu mengaku kaget dan tidak percaya dengan pencekalan ini,” kata Imam kemarin.

Didampingi manajer event organiser (EO), Husin Albanan, Imam menerangkan bahwa panggung pementasan yang diangkut dengan susah payah ke Pamekasan, akhirnya hanya tergeletak begitu saja. Demikian pula tiket masuk sebanyak 10.000 lembar sudah dicetak, dengan harga Rp 15.000 per lembar.

Sebelum di Pamekasan, Ridho Rhoma yang kini sedang naik daun menyelenggarakan konser di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang sempat diwarnai kericuhan penonton, Rabu (9/12) malam.

Pemkab Pamekasan membenarkan bahwa pembatalan konser Ridho berdasarkan pertimbangan dari MUI Pamekasan. Namun, menurut Bupati Pamekasan Kholilurrahman, itu bukan alasan satu-satunya. ”Ada alasan lain mengapa kami membatalkan konser tersebut,” katanya.

Dia menjelaskan, alasan lain itu adalah acara yang akan digelar tersebut lebih mendekati kegiatan bisnis murni, bukan nada dan dakwah.

Akibat kebijakannya itu, Bupati Kholilurrahman menerima protes dari warganya melalui SMS yang disampaikan ke sejumlah stasiun radio di Pamekasan, yang sebelumnya gencar mempromosikan konser Ridho Rhoma.

”Ada lebih 1.000 SMS yang masuk ke kami, memprotes pembatalan konser Ridho Rhoma ini,” kata Fauzi Ahmad, karyawan Radio Karima FM di Pamekasan, seperti dikutip Antara.

Salah satu isi SMS menyebutkan, mengapa konser Ridho Rhoma yang diisi dengan lagu-lagu bernuansa Islami justru dilarang, sedangkan di kecamatan-kecamatan di Pamekasan acara-acara dangdut yang menampilkan erotisme tidak dipedulikan pemerintah.

”Kenapa acara dangdut yang mempertontonkan goyangan erotis yang ada di desa-desa di sini justru dibiarkan. Terlalu!” kata Fauzi menirukan isi SMS yang disampaikan pendengar radio tempat dia bekerja itu. (Surya/tat)

kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: